Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Mei 2016

Wisata Pulau Semak Daun, Menikmati Pesona Alam Tersembunyi

Indonesia memiliki ribuan pulau yang belum dimaksimalkan potensinya baik sebagai pusat tujuan wisata ataupun sebagai pusat perekonomian. Salah satunya adalah Pulau Semak Daun. Pulau ini merupakan salah satu bagian dari gugusan Kepulauan Seribu. Letaknya yang terbilang masih dekat dengan ibu kota tidak menjadikan nama pulau ini setenar dengan pulau-pulau lain yang terletak di Kepulauan Seribu, seperti misalnya Pulau Pramuka. Kurangnya promosi dan kelengkapan infrastruktur yang menunjang pariwisata di pulau ini dianggap sebagai hambatan bagi kemajuan wisata pulau dengan berbagai potensi alamnya.

Namun hambatan-hambatan tersebut tidak menjadikan salah satu pulau dari Kepulauan Seribu ini menjadi sepi pengunjung. Pasalnya, walaupun belum banyak orang yang mengetahui potensi wisata di pulau ini, tapi keindahan alam dan keasrian lingkungannya menjadi salah satu pilihan tepat untuk berwisata alam. Apa sajakah pesona alam dari pulau ini? Berikut ulasannya. 
Lokasi Pulau Semak Daun terletak di Kelurahan Pulau Panggang yang merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Pulau Seribu Utara dan masuk dalam Kabupaten Administrasi Pulau Seribu. Semak Daun memiliki beberapa pilihan rute. Jika anda berangkat dari Jakarta, maka anda bisa menyeberang melalui Muara Angke menuju Pulau Pramuka dan melanjutkan perjalanan menggunakan kapal kecil milik nelayan dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Atau rute lain yang bisa anda lalui adalah perjalanan sekitar 1 jam dari Pulau Tidung. Karena pulau yang menawan ini terletak di lokasi yang tersembunyi, maka tidak ada akses langsung dari pelabuhan. Oleh karena itu, para wisatawan harus menempuh perjalanan lanjutan dengan kapal yang lebih kecil. Di antara kedua rute tersebut, akses melalui rute Pulau Pramuka lebih banyak dipilih karena jarak tempuh yang lebih cepat. 

Pulau Semak Daun memiliki beberapa pilihan wisata favorit namun paket wisata yang paling populer dari pulau ini adalah camping. Semak Daun yang terbilang masih sepi dibandingkan beberapa pulau di sekitarnya sering menjadi pilihan tepat untuk para wisatawan yang ingin menikmati alam dengan suasana yang tenang. Walaupun sepi, pulau ini cukup terawat sehingga fasilitas yang terbilang masih terbatas bisa dimanfaatkan secara maksimal. Selain alasan ketenangan yang dimiliki pulau eksotis ini, faktor lain yang menarik para wisatawan untuk menjadikannya sebagai lokasi camping adalah karena luasnya yang tidak lebih dari empat kali ukuran lapangan tenis. Hal ini memungkinkan para wisatawan untuk mengelilingi seluruh pulau selama camping yang biasanya berlangsung selama 2 hingga 3 hari. 

Faktor keamanan dan kebersihan juga menjadi alasan para wisatawan tertarik bermalam di Pulau Semak Daun. Karena pulau ini biasa dijadikan lokasi camping, maka tersedia beberapa petugas keamanan yang secara rutin melakukan pengecekan lokasi untuk memberikan jaminan keamanan yang maksimal. Selain itu, para petugas keamanan juga selalu membersihkan lokasi wisata agar para wisatawan merasa nyaman dan tergerak untuk selalu menjaga keasrian pulau ini. Selain itu, faktor utama yang menjadikan pulau ini ramai pengunjung adalah fasilitas dasar bagi para wisatawan. Salah satunya adalah fasilitas komunikasi di antaranya listrik, akses telepon, dan fasilitas pelengkap penginapan seperti kamar mandi dan warung. Khusus untuk penginapan, para wisatawan bisa bermalam di tenda dan perlu diingat karena lokasi yang cukup tersembunyi, maka pasokan listrik dan air tawar masih sangat terbatas. Oleh karena itu, para pengunjung dihimbau untuk menggunakannya sesuai kebutuhan.

Sebagai informasi, warung yang tersedia di pulau ini pun hanya menyediakan beberapa perlengkapan, misalnya makanan ringan, minuman dan beberapa perlengkapan medis untuk kebutuhan dasar seperti obat luka dan plester. Karena itu, bagi pengunjung yang berniat untuk berlibur dan menginap di Pulau Semak Daun, sebaiknya mempersiapkan kebutuhannya secara lengkap. Sedangkan, untuk keperluan tenda, para pengunjung bebas untuk membawanya sendiri atau menyewa langsung di lokasi. Jika berniat untuk menyewa, maka Anda tidak perlu repot untuk mendirikan dan membereskannya karena pihak persewaan akan mempersiapkannya. Akan tetapi, an perlu menyiapkan uang lebih karena pembayaran tenda dihitung tiap orang dan jumlah malam selama menginap. 
Pilihan wisata selanjutnya yang bisa dinikmati di Pulau Semak Daun adalah aktivitas menyelam di sekitar pulau ini. Selain lingkungan alamnya yang masih asri, ternyata pulau ini juga memiliki keindahan bawah laut yang memukau. Pengunjung yang gemar melakukan olahraga menyelam bisa menjadikan lokasi ini sebagai salah satu tujuan yang wajib dikunjungi. Biota lautnya yang masih sangat alami dan terjaga menjadikan kegiatan menyelam di pulau ini sangat menyenangkan. Biota lautnya seperti terumbu karang dan berbagai jenis ikan hidup di laut pulau ini. Selain itu, pasir pantainya yang putih semakin menambah kecantikan alamnya. Satu hal yang menjadikan pengunjung bisa menyelam tanpa khawatir adalah karena di pulau ini tidak ada bulu babi yang bisa mengganggu. 

Berbeda dengan yang berniat untuk camping, pengunjung yang hanya ingin merasakan sensasi menyelam di Pulau Semak Daun biasanya tidak perlu menginap. Pasalnya, kebanyakan dari mereka menginap di pulau-pulau lain di Kepulauan Seribu, seperti di Pulau Pramuka dan Pulau Tidung yang memiliki fasilitas peristirahatan lebih lengkap. Walaupun mereka hanya berlibur singkat di pulau ini, kebanyakan dari mereka pasti kembali lagi untuk menikmati sensasi menyelam di pulau tersebut. Wisata menyelam ini terbilang cukup murah dibanding dengan beberapa daerah di Indonesia, seperti Bunaken atau Raja Ampat.

Jika pengunjung sudah puas dengan berkemah dan menyelam di kawasan Pulau Semak Daun dan masih ingin melanjutkan petualangan, maka mereka bisa mencoba berwisata di pusat penangkaran penyu. Penangkaran penyu ini daerah ini merupakan salah satu yang terbesar di Indonesia. Saat mengunjungi penangkaran tersebut, pengunjung bisa melihat proses pengembangbiakan penyu dari kecil hingga dewasa dan mereka juga bisa berinteraksi langsung dengan penyu-penyu di penangkaran tersebut. Sebuah pengalaman yang menyenangkan dan tidak terlupakan, bukan?

Sebagai penutup liburan di Pulau Semak Daun, para pengunjung bisa menikmati suasana matahari tenggelam. Untuk menambah kemeriahan ketika senja datang, biasanya pengunjung melakukan pesta barbeque atau menyalakan api unggun. Itulah beberapa pilihan wisata yang bisa dinikmati di pulau kecil ini. Semoga liburan singkat di pulau ini bisa memberikan kesan yang tidak terlupakan. Tapi satu hal yang harus diingat adalah sebagai pengunjung, kita juga harus bertanggung jawab atas kebersihan di sekitar pulau. Oleh karena itu, kita harus selalu membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan atau sebelum berkunjung, anda bisa mempersiapkan kantong sampah khusus untuk membuang sampah sisa liburan sehingga tidak mengotori pulau. Keindahan alam akan tetap terjaga selama kita sadar diri untuk terus melestarikannya. Semoga artikel tentang Pulau Semak Daun ini bisa menjadi referensi liburan yang seru dan hemat.

Rumah Adat Masyarakat Kampung Naga Tasikmalaya


Rumah adat masyarakat Kampung Naga memiliki keunikan yang khas Jenis rumahnya adalah rumah panggung dengan ketinggian kolong sekitar 40-50 sentimeter (rumah jenis ini merupakan tipe rumah adat sebagian masyarakat Sunda, terutama di daerah pedesaan di tanah Priangan). Bentuk dan bahan bangunan dasar rumah masyarakat Kampung Naga adalah empat persegi panjang, dengan atap memanjang (dalam bahasa Sunda dikenal dengan imah suhunan panjang). Pada kedua ujung atap terdapat suatu model silang atau cagak yang menyerupai sepasang tanduk. Cagak tersebut terbuat dari batangan bambu atau kayu yang dibungkus ijuk. Posisi atau orientasi rumah seragam, yaitu memanjang arah barat timur, sedangkan bagian muka rumah menghadap ke arah selatan atau utara. “ Ujar Kang Yudi selaku pemandu dari Kampung Naga "

Kerangka rumah adat masyrakat Kampung Naga terutama terbuat dari kayu dan bambu, atap terbuat dari ijuk dan daun tepus, sedangkan dinding rumah seluruhnya terbuat dari anyaman bambu. Lantai rumah terbuat dari bambu yang di cincang-cincang arah memanjang (tidak sampai putus), sehingga dapat dibentangkan (dalam bahasa Sunda dikenal dengan sebutan palupuh).

Karena bentuk rumahnya yang sederhana dan persegi empat, maka biasanya bangunan rumah masyarakat Kampung Naga tidaklah pelik. Bagian depan sekali (sebelum melewati pintu depan) terdapat tangga yang disebut golodog. Golodog terbuat dari bambu dan ada juga yang terbuat dari papan.

Golodog biasanya terdiri dari satu atau dua tahapan dengan panjang masing-masingdua meter dan lebar 30-40 cm. Selain berfungsi sebagai tangga masuk, pada waktu-waktu tertentu golodog dijadikan tempat duduk-duduk baik untuk bercengkrama atau semacamnya oleh kaum lelaki. “ Ujar Kang Yudi selaku pemandu dari Kampung Naga "

Daluang Kertas Tradisional Masyarakat Kampung Pulo

Daluang adalah kain atau kertas dari kulit pohon-pohonan. Daulang mungkin belum dikenal sebagian besar masyarakat Indonesia. Padahal daluang telah menjadi barang yang diminati negara lain. Bahkan harga daluang sangat tinggi karena kekuatannya yang bisa mencapai ratusan tahun. Di museum Situ Cangkuang, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Setiap pengunjung akan diberi tahu cara membuat daluang.
Daluang, atau dluwang dalam bahasa Jawa, merupakan kertas yang berasal dari pohon saeh. Naskah-naskah kuno seperti Alquran dan naskah khutbah Idulfitri yang berada di museum Situ Cangkuang menggunakan daluang sebagai bahan bakunya. Naskah yang sudah berumur ratusan tahun tersebut hingga kini masih terjaga keasriannya. Bahkan tulisan di daluang masih bisa terbaca.

Pohon yang tak bercabang dengan diameter tak lebih dari 20 sentimeter itu diambil bagian kulitnya untuk dijadikan bahan kertas. Koordinator juru pelihara Situ Cangkuang, Zaki Munawar, mengatakan pohon saeh yang bisa menjadi bahan baku kertas biasanya yang telah berumur satu sampai dua tahun. Jika pohon terlalu tua, akan sulit untuk dijadikan kertas. “Orang dari Amerika dan Jepang banyak yang memesan daluang ini. Soalnya kekuatan kertasnya lebih bagus daripada kertas pada umumnya. Kertas nasional Nusantara daluang ini memang memerlukan waktu yang cukup lama untuk membuatnya,” ujar pemandu di site museum Situ Cangkuang, Jum’at (8/6).

Proses pembuatan daluang masih dilakukan secara tradisional. Jika memerlukan kertas dengan ukuran 30 sentimeter, pohon saeh yang digunakan pun berukuran 30 sentimeter. Sebelum diambil bagian kulitnya, pohon saeh terlebih dahulu direndam selama tiga hari. “Setelah direndam lalu dipukul-pukul hingga melebar menjadi kertas. Nantinya pohon yang sudah dipukul-pukul itu harus direndam kembali dengan dibungkus daun pisang selama empat sampai enam hari untuk menutup bagian kertas yang bolong".

Tempat Wisata Bahari Pulau Tidung


Serunya berlibur di Pulau Tidung. Banyak aktivitas seru saat berlibur di Pulau Tidung. Disamping menikmati suasana pantai yang sejuk kita bisa melakukan kegiatan yang menyenangkan dan seru, dijamin akan moment yang tak terlupakan bagi rombongan anda. Inilah beberapa kegiatan wisatawan saat berada di Surga Bahari Indonesia ini

Snorkeling merupakan kegiatan yang biasa dilakukan oleh para wisatawan yang mengunjungi Pulau Tidung, hal ini disebabkan karena memang pulau yang terletak di Kepulauan Seribu Jakarta Utara ini kaya akan keindahannya, masih lestarinya batu karang serta biota laut akan memanjakan mata anda jika anda menyelam di laut dangkal atau yang biasa disebut dengan snorkeling.

Jembatan yang menghubungkan diantara Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil biasa disebut dengan julukan Jembatan Cinta. Melintasi Jembatan Cinta sudah tidak asing lagi. Karena konon jembatan ini punya mitos bahwa jika ada sepasang kekasih yang melintasi dan mengikat janji di jembatan ini, maka cinta mereka akan bertahan selamanya.

BBQ Party, merupakan kegiatan yang biasa dilakukan dimalam hari. Makan bersama di pinggir pantai sambil menikmati angin pantai dengan menu ikan bakar akan membuat kebersamaan menjadi lebih mengasikkan. Menu ikan yang dibakar tak hanya satu sejis. Tersedia bermacam-macam ikan laut, cumi maupun lainnya yang sesui dengan keinginan anda.




Tak hanya itu, masih banyak kegiatan menyenangkan lainnya yang bisa anda lakukan disana. Misalnya seperti bersepeda bersama, naik kapal speedboat, berpetualang menjelajahi pulau, dan lain-lain yang pasti semua itu dijamin akan membuat liburan anda menjadi tidak akan terlupakan.

“Penjara Banceuy” Saksi Bisu Yang Terlupakan


Sel tempat Soekarno dikurung selama 8 bulan di Penjara Banceuy. Kini sedang dalam tahap renovasi
Tak mudah mencari lokasi bekas penjara Banceuy yang terletak di jalan Banceuy No. 8 Bandung, karena nyaris tak ada jalan yang leluasa untuk dilalui. Meskipun sebenarnya lokasi ini dapat diakses melalui jalan ABC dan gerbang masuk pertokoan Banceuy. Bekas penjara Banceuy dikepung puluhan rumah toko dan gedung perkantoran setinggi puluhan meter. Penjara Banceuy yang bersejarah itu tersamar di tengah hiruk-pikuk urusan dagang. 
Setelah melalui jalan yang lebih mirip lorong di antara ruko dan gedung perkantoran, tampaklah lahan berpagar besi. Di tengah lahan itu berdiri bangunan yang sekilas tampak seperti toilet umum. Terdapat plat nomor 5 pada bangunan tersebut, yang menandakan kamar sel nomor 5. Itulah sel tempat Soekarno dikurung selama delapan bulan sejak 9 Desember 1929. Inilah yang menjadi titik tolak mengapa bangunan ini bersejarah. Pada tanggal 29 Desember 1929 itu, Soekarno serta tiga rekan dari PNI (Partai Nasional Indonesia), Maskoen, Soepriadinata, dan Gatot Mangkoepraja ditangkap di Yogyakarta dan kemudian dijebloskan ke penjara Banceuy selama kurang lebih 8 bulan. Di penjara itu, Soekarno dikurung di sel nomor 5 dengan ukuran 1,5x2,5 meter dan berisi kasur lipat juga toilet nonpermanent. Di sinilah di ruangan gelap dan sempit ini pula, Soekarno menyusun pledoi yang sangat terkenal yang kemudian diberi nama “Indonesia Menggugat” yang dibacakan pada siding pengadilan di Gedung Landraad (kini bernama Gedung Indonesia Menggugat yang terletak di jalan perintis kemerdekaan).

Penjara Banceuy dibangun oleh pemerintah Belanda pada tahun 1877, awalnya penjara ini diperuntukkan bagi tahanan politik tingkat rendah dan kriminal. Sel yang terdapat di penjara ini berukuran 1,5x2,5 meter. Pada tahun 1983 penjara Banceuy dipindahkan ke jalan Soekarno-Hatta yang kemudian penjara Banceuy ini sendiri dibongkar untuk dijadikan kompleks pertokoan. Yang tersisa dari komplek penjara Banceuy ini hanya sel penjara bekas Soekarno dikurung (sel nomor 5) dan menara penjaga.


Jika kita berkunjung kesana memang kita akan kesulitan untuk menemukan lokasi penjara yang tersisa tersebut. Namun jika kita bertanya pada orang sekitar yang berada di daerah tersebut, mereka akan memberi tahu dimana lokasi penjara tersebut. Bangunan bersejarah yang sedang dalam masa renovasi ini awalnya sangat memprihatinkan. Sebelum ada renovasi, bangunan bersejarah ini layaknya toilet umum. Bangunan ini seperti lapuk dimakan oleh zaman. Namun kini, bangunan bersejarah ini sudah dalam masa perbaikan.
“Sebelumnya bangunan ini hanya bangunan bersejarah biasa, tapi setelah kita perbaiki lalu ditengah-tengah perbaikan kita menemukan beberapa fakta lain. Mungkin nantinya kita bisa merekonstruksi secara digital bagaimana bangunan ini pada masa lalu” begitu ungkap Heri salah satu anggota kelompok yang akan mengangkat cerita tentang Soekarno selama di Bandung.

Namun Heri mengungkapkan kelompoknya terbentur oleh izin dan hak kepemilika lahan yang berada di komplek pertokoan tersebut. “kita cuman dikasih jatah satu bagian ini aja. Diluar pagar ini ya kita enggak bisa eksplore” ungkap Heri menunjukan bagian pagar bangunan sel penjara Soekarno. Saat dimintai keterangan tentang sejarah Soekarno berada di sel tersebut, dirinya juga masih ragu tentang informasi yang dia dapat selama ini. “saya masih ragu sebetulnya tentang semua ini. Soalnya masih sangat janggal. Tentang berapa lama, kapan masuk dan kapan keluarnya. Tapi kalau belum ada data lain, ya mau enggak mau pake data yang ada dulu” ungkapnya saat ditanyai soal Soekarno dan sel tersebut. Dirinya juga menambahkan bahwa data yang ada saat ini belum tentu kebenaranya “kayaknya juga enggak 8 bulan Soekarno disini, sepertinya lebih deh. Soekarno beberapa kali siding, masa hanya 8 bulan”. Begit yang disampaikan Heri.
Tim yang dibangun Heri bisa disebut tim pecinta sejarah. Mereka mencoba mengungkap semua sejarah yang masih janggal hingga saat ini. Mereka terdiri dari ahli sejarah dan beberapa dosen sejarah di berbagai Universitas di Bandung dan Jakarta. Heri mengungkapkan, dalam waktu dekat dirinya dan tim akan membuat sebuah cerita tentang Soekarno selama berada di Bandung. “dari mulai ditangkap di sel ini, lalu ngekost di rumah bu Inggit, sampai mungkin konferensi Asia-Afrika” ungkap dirinya.

Mungkin setelah renovasi penjara Banceuy ini selesai, penjara ini bisa menjadi lebih baik dari segi bangunan dan bentuk fisik. Akan tetapi tempat yang bisa dibilang awal dari perjuangan Indonesia ini, belum tentu akan banyak dikunjungi oleh para wisatawan baik lokal maupun internasional. Bukan tanpa alasan, namun akses jalan yang kurang memadai dan info tentang penjara inilah yang membuat wisata bersejarah ini kurang diminati. Bayangkan jika anak cucu kita tidak tahu tentang sejarah negaranya sendiri. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya.